Selasa, 21 April 2015

Backpacker Flores Kelimutu to Komodo Island ( Kelimutu Catper Part 1)

Dari bermimpi untuk melakukan perjalanan  ke ende sendiri, dan mungkin bagi saya sangat sulit terlaksana karena berbagai faktor. Bermula dari chat di bbm dengan teman sahabat pendaki bro Een, menanyakan tujuan  trip selanjutnya dari itu terciptalah ide melakukan perjalanan menuju flores tempatnya ke ende, dengan pertimbangan sudah cukup lama tidak terjun bebas ke alam bebas dan kesana kemari, dan mungkin mulai lelah :) dengan rutinitas yang ada saya dan Een memutuskan merancanakan perjalanan menuju flores melalui jalur darat dan laut.

Saat sebelum perjalanan saya sudah beres melakukan pekerjaan project, dan alhamdulliah sudah tidak di teruskan. Akhirnya saya dan Een sepakat  menyusun rencana secara detail tentang destinasi, transportasi, waktu, peralatan,  dan tentu juga biaya  perjalanan untuk memuluskan langkah perjalanan agar termanaj dengan baik Setelah semua selesai akhirnya tersepakati memulai perjalanan akhir bulan november 2014, namun apadaya pemerintah tidak mendukung langkah kami, dengan kebijakan menaikan BBM yang otomatis berimbas kepada rencana biaya kami yang sudah fix dan mungkin tidak bisa bertambah dananya malah mungkin bisa kurang, tapi saya dan Een tetap nekat untuk melakukan perjalanan ini.

Tanggal 23/11/14 kita memulai perjalanan menggunakan kereta menuju Surabaya dahulu, sekitar setelah shalat shubuh saya bergegas  ke stasiun Cikampek menuju Stasiun Pasar senen karena keberagkatan dimulai dari stasiun pasar senen entah untuk keberapa kalinya perjalanan di mulai dari stasiun ini. Sekitar pukul 10.40 tepat kerta Gaya Baru Malam Selatan yang kami tumpangi melaju menuju surabaya, didalam kereta mungkin sekarang sangat berbeda dengan dahulu walaupun ekonomi sekarang sudah cukup nyaman tidak ada pedagang asongan pengamen, dan juga tidak diperbolehkan merokok mungkin yang paling terakhir cukup berat bagi saya sebagai perokok yang aktif terdaftar. Kereta yang membawa saya dan Een sampai Surabaya sekitar jam 02.00 pagi kareana masih pagi kita putuskan untuk beristirahat dan berinteraksi  disekitar Stasiun Surabaya gubeng untuk menunggu pagi mengambil  tiket kapal laut dan menuju pelabuhan Tanjung Perak.
Pelabuhan Tanjung Perak

24/11/14 pagi kami meninggalkan stasiun menuju ke tempat travel, awalnya sempat bingung untuk menuju ke alamat travel menggunakan kendaraan umum apa?, namun di stasiun gubeng saya ditawari seorang bapak-bapak yang muda alias mas-mas menuju ke tempat angkutan umum bus damri yang melewati tempat travel dan menuju ke pelabuhan tanjung perak, di pagi buta akhirnya kita diantar menuju tempat dimana bus damri lewat dengan  berjalan kaki dan menghirup udara pagi surabaya, namun ditengah perjalanan saya cukup curiga dengan mas yang mengantar saya, karena mungkin banyak bicara dan dia sendiri tidak tau mau kemana. Akhirnya rasa curiga itu hilang ketika kami sampai di sekitar tunjungan plaza dan kemudian menaiki bus, malah masnya ikut naik dan bilang ke kondektur untuk menurunkan saya di tempat tujuan lalu dia berhenti meninggalkan saya dan Een disuatu tempat. Walaupun sudah diantarkan oleh orang yang tidak tau mau kemana saya sangat berterimakasih atas mas asli Lumajang yang namanyapun tidak tahu, dan meminta maaf telah merepotkan. dan kesimpulanya ketika kita percaya seseorang kita harus percaya sepenuhnya dan percaya masih banyak orang yang baik di negri ini.    

Setelah itu kami turun dari bus damri di jalan Perak Timur 308 depan depo pertamina untuk mengambil tiket kapal laut KM Umsini, tujuan maumere yaitu gerbang wilayah timur menuju flores, sebenarnya ada kapal lain yang langsung menuju ende namun karena jadwal yang tidak memungkinkan akhinya start mulai dari maumere.Ketika sampai travel Satya Atmaja masih belum buka dan saya harus menunggu sekalian sarapan di sekitar travel , untuk tiket saya sudah memesan seminggu sebelum keberangkatan, saya memilih travel tersebut cukup rasional dengan harga asli tiket sekitar 410000. Setelah buka saya dipersilahkan untuk menyimpan barang dan istirahat di tempat yang disediakan travell karena baru sekitar jam 3 sore keberangkatan kapal laut, di waktu tersisa saya gunakan waktu dengan Een ke pasar di sekitar tempat travel untuk membeli minuman botol popmie rokok dan makanan ringan lainya karena didalam kapal laut cukup lumayan harganya.

Sekitar pukul dua kami meninggalkan travell menuju pelabuhan tanjung perak, yang jaraknya mungkin 2 km lagi menunggunakan angkot, lalu setelah sampai kita bergegas masuk karena kapal sudah ada dan tidak lupa barang bawaan discan seperti di bandara, alhasil dua gas saya di sita petugas karena saya mengira pelabuhan tanjung perak tidak cukup ketat namun ternyata mempunyai fasilitas yang cukup baik menurut saya. Sampai masuk di kapal betapa kagetnya sudah banyak penumpang yang berada di kapal KM Umsini ini, dan bergegas mencari tempat kosong di deck yang terdapat kasur yang seadanya karena saya memegang tiket kelas ekonomi. Setelah dapat saa kemudian menyimpan barang, lalu kemudian berinteraksi dengan penumpang kanan kiri saya, dari hasil pembicaraan saya baru mengetahui bahwa KM Umsini dari Jakarta juga dan itu yang membuat saya kaget kenapa tidak naik dari Jakarta, toh waktunya cuma berbeda jam menggunakan kereta api. Sekitar pukul setengah empat kapal mulai berlayar meninggalkan pelabuhan tanjung perak, dan ini pengalaman pertama saya menaiki kapal laut berhari-hari untuk tujuan pertama adalah menuju pelabuhan di Makassar.
KM Umsini
Pangkalan Militer
Di hari pertama di KM Umsini saya masih menikmati suasana  sampai malam datang baru saya merasakan kelimpungan karena saat ingin tidur suasana sangat gerah panas sekali, karena ac dan kipas yang di deck tempat saya berada tidak menyala ditambah dengan banyaknya penumpang membuat saya dan Een tidak bisa memejamkan mata walaupun sudah kurang tidur sejak keberangkatan dari jakarta. Setelah malam tiba akhirnya saya dan Een memutuskan untuk mencari lapak tidur di deck luar kapal dan kita juga bertemu pendaki asal Makassar yang telah mendaki Semeru berdua saja, dan setelah berputar atas bawah kanan kiri belakang depan akhirnya menemukan lapak untuk beristirahat, dengan modal sleeping bag dan kardus besar hasil nemu dan hembusan angin yang tidak begitu besar malah gerah di dalam sleeping bag akhirnya mata terpejam juga, sampai sekitar mau menjelang shubuh hujan membubarkan kita yang sedang terlelap, dengan hujan yang cukup besar saya kembali ke deck tempat barang yang saya tinggalkan walupun sudah di wanti-wanti oleh penumpang lain agar dijaga karena banyak kejadian kehilangan barang bawaan tapi kami percaya maling juga males bawa cariier gede bentuknya isinya gak seberapa :). Saat hujan cukup besar saya juga sempat membangunkan penumpang yang saya sudah kenalan yang tujuan sama dengan saya karena walaupun tertutup di deck luar namun karena air keluar dari sanitasi air kapal yang meluber dan banjir serta membantu mengangkat barang bawaan yang cukup banyak. Setelah reda sekitar  waktu shubuh saya dan Een kembali mencari lapak untuk tidur dengan mencari tempat kering untuk melanjutkan tidur yang tertunda.
Di Deck Luar Depan bersama Pendaki asal Makassar
Me :)
Stop Sirkus Lumba-lumba
 25/11/2014 saya terbangun dari tidur yang tertunda oleh sinar matahari yang begitu terang dan dengan pemandangan biru laut hanya laut saja yang terlihat, dan kembali ke tempat deck dalam tempat saya menyimpan barang, kemudian beberapa saat terdengar suara pengumuman makan pagi, di kapal laut kita mendapat jatah makan 3 kali pagi, siang, dan sore tapi jangan berharap dengan menu dan porsi  yang wah dan rasa yang wah, karena semua makanan cukup, cukup kurang dan lain-lain tapi nikmati saja karena di kantin-kantin cukup lumayan harganya, paling tidak saya tambah mie instan yang di bawa karena sudah ada air panas tinggal antri untuk menggambilnya. Selama perjalanan sampai mungkin aktifitas hanya makan tidur baca buku, keliling deck atas bawah, makan lagi tidur lagi. Namun ketika sore hari kita bisa melihat keindahan matahari terbenam ditengah lautan dan terkadang melihat lumba-lumba dan ikan terbang yang bermuculan disekitar kapal.Sekitar Sekitar puku 19.30 Wita  kapal mulai bersandar di pelabuahan makassar. Saat pertama melihat kapal bersandar saya kaget degan banyaknya orang berkumpul di depan pintu keluar dan masuk, dengan berlarian menuju kapal dengan semangat, dan ternyat mereka adalah buruh/atau porter yang membawa barang penumpang yang turun, dimana para penumpang juga mewanti-wanti agar barang dijaga ketika bersandar karena banyak oknum buruh nakal yang suka sembarangan mengambil barang penumpang. Setelah mendapat pengumuman kapal bersandar cukup lama dan berangkat esok paginya saya dan Een memutuskan untuk turun dari kapal dan menginjak kaki daratan setelah dua hari satu malam nginjek besi di atas air, dan kita memutuskan berjalan kaki menuju losari, dengan modal bertanya dan saya juga sempat dua kali ke Makassar saat ada kerjaan sampailah ke pantai losari dari pelabuhan dengan berjalan kaki, dan setelah sampai tidak lupa mencari minuman dan foto-foto tentunya, sekitar sejam akhirnya kita putuskan kembali ke pelabuhan dengan jalan duduk didalem taxi hehehe.... Setelah sampai pelabuhan suasana agak berbeda dan tidak terlalu ramai, setelah sampai dalam usul punya usul karena ada keributan dengan pemuda atu oknum di sekitar pelabuhan yang masuk ke kapal melalui tali yang menggangu penumpang, karena juga sempat ada perkelahian dan saling lempar dengan oknum di pelabuahan. Dan suasana semakin tegang ketika polisi datang ke deck, dan adanya hilang barang yang berisi uang dan laptop penumpang yang lumayan besar, dengan suasana panas dan ruang yang panas pula membuat saya dan Een tidak bisa tidur kembali, dan sekitar pukul 03 pagi 26/11/2014 kapal sudah kembali berangkat  menuju pelabuhan berikutnya yang mana tempat tujuan saya yaitu Maumere.
Senja Di Lautan Lepas

Bye... Miss U..
Makassar
Pantai Losari
Setelah berangkat dari pelabuhan makassar selanjutnya yah seperti biasa rutinitas di kapal, mungkin setelah turun saya bakal punya kenangan banyak yang tidak mungkin diceritakan ribuan kata-kata. Setelah malam menjelang saya mulai berkemas packing karena sekitar tengah malam akan sampai di pelabuhan Maumere. Dan sekitar pukul 22.00 saya sudah sampai di pelabuhan yang tidak terlalu besar namun ramai sekali, setelah turun saya tidak langsung keluar karena merasa kebingungan mau ke mana dan menunggu bapak dan keluarganya yang saya kenal untuk dianjak mencarikan mobil travel ke Moni Ende, setelah lama menunggu dan tidak terlihat Een di hampiri abang-abang bawa carrier juga namanya bang rizky, dan setelah berbincang-bincang dia asli maumere yang sudah lama kuliah dan menetap di bandung anak Mapala juga tapi lupa kampus mana, malah dari ngomong seperti orang sunda asli. Setelah itu saya di tawari untuk dicarikan travell keluar pelabuhan bersama, dan setelah berjuang melawab calo-calo akhirnya saya ketemu dengan teman-teman bang rizky dan ditanyai mau kemana, karena tujuan berikutnya adalah Moni yaitu desa di kaki gunung Kelimutu, setelah bertanya baru ada pagi karena tidak berani berangkat malam faktor musim hujan banyak titik rawan longsor di sepanjang jalan dari Maumere ke Moni atau Ende, dengan berat hati keluar dari plan yang dibuat akhirnya kita memilih opsi untuk mencari hotel dan diantar menggunakan motor oleh teman bang Rizky untuk mencari hotel yang murah, setelah dapat hotel homestay yang menurut saya murah 3 kasur dapat breakfast pula cuma Rp.120.000, yah tapi di maumere belum terlalu banyak hotel yang bagus seperti kota-kota besar, tapi kalau menurut saya sudah cukup asal bisa beristirahat melepas lelah untuk menyambut esok hari yang indah-indah.
Hotel Homestay Maumere (Y)
27/11/2014 bangun pagi hari dan jalan-jalan ke sekitar hotel  dekat pelabuhan maumere dan pasar ikan setelah puas dan bertanya-tanya soal angkutan menuju Ende tempatnya ke moni, untuk menuju terminal juga cukup jauh dari hotel saya dan Een memutuskan menggunakan mobil travel yang nomernya diberikan teman bang Rizky semalam  menuju Moni, setelah nego kita dapat harga Rp.80.000 dan dijemput ke hotel. Sekitar pukul 09 pagi saya sudah berangkat menuju Moni. Selama di Maumere kita tidak sempat jalan ke tempat-tempat yang emejing di sana karena memang kita untuk menghemat biaya dan waktu. 

Sekitar pukul 12.00 kita sampai di Moni dengan jalan yang begitu membuat perut kekocok karena medan yang belok sana sini tiap waktu, setelah sampai saya di turunkan depan sebuah homestay yang lupan namanya saya disambut ibu pemiliknya dan ngobrol dengan kesana kemari, saya kemudian juga sewa motor untuk transportasi kesana kemari juga, di Moni terdapat banyak sekali homestay dengan harga dan fasilitas yang bervariasi dan saya dapat harga sekitar Rp.130.000 dan tentu diskon untuk orang lokal tentunya dengan kondisi tempat yang baik untuk menyimpan barang dan beristirahat. Sampai di homestay lalu kita mengambil motor sewaan untuk menuju desa adat Wologai, disana saya disambut dengan bapak edol dengan ramah dan menjelaskan tentang seluk beluk rumah adat Wologai disana juga kebetulan sedang dibangun kembali rumah-rumah adat setelah tertimpah musibah kebakaran dan sedang direnovasi dan masih ada rumah-rumah adat yang belum jadi, sayang belum banyak foto sana sini hujan mulai turun dan saya mulai bertenduh di pelataran rumah adat yang masih terasa baru dengan disuguhi cemilan dan kopi setempat.

Rumah Adat Wologai dari Kejauhan

Rumah Adat Wologai
Rumah Adat Wologai

Rumah Adat Wologai
Bersama Pak Edol

Rumah Adat Wologai
 Setelah hujan reda saya dan Een pun bergegas kembali ke homestay untuk beristirahat, sekitar pukul lima kita menuju ke curug morondau diantar guide richard yang bekerja dihomestay, di curug kami hanya foto-foto saja karena hari mulai gelap dan masih gerimis. Setelah pulang dari curug setelah mandi dan makan malam di restoran makanan tradisional dengan harga diskon pula, dengan menu tradisional yang di kreasikan begitu nikmat disantap dengan ditemani para bule sebelum melanjutkan istirahat untuk berangkat pagi hari sekali.
Curug Morondau
Ricahrd nd Me

28/11/2014 sekitar pukul 04.30 pagi saya dan Een berangkat menuju Gunung Kelimutu menggunakan motor sewaan yang sudah terpakir di depan rumah pemilik homestay, pagi hari adalah waktu yang tepat menuju ke gunung Kelimutu karena kita akan mendapatkan pemandangan sunrise yang begitu indah di antara danau uang gocengan jadul danau tiga warna yang begitu eksotis dan indah sayang sekali untuk dilewatkan. Untuk menuju gunung Kelimutu dari desa moni cukup dekat menggunakan motor kita berjalan ke arah Ende tak lama kita akan menemui gerbang masuk ke kawasan  taman nasional gunung kelimutu, di pagi hari yang dingin kita akan menanjak dan berkelok untuk sampai ke tempat pos registrasi pengunjung, setelah sampai pos regristasi kita harus mengisi data yang sudah disediakan petugas dan membayar retribusi masuk Rp.5000/org dan Rp.5000 juga untuk kendaraan roda dua, setelah melapor ke pos kita melanjutkan perjalanan menuju parkir yang tidak begtu jauh dengan kondisi tempat parkir cukup luas dan melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki dan tidak begitu juah menuju danau.

Denah Lokasi
Dari tempat parkir menuju bibir kawah atau danau tidak terlalu jauh berjalan sekitar 15-30 menit  (tergantung speed berjalan) sudah dapat melihat keindahan danau tiga warna gunug kelimutu yang indah, saya dan Een beruntung dapat menikmati matahari terbit ketika sampai sudah ada beberapa wisatawan mancanegara yang sudah ada termasuk tetangga homestay asal Australia yang sudah berada disana, di akhir tahun memang cukup sepi kunjungan wisata ke sekitar flores, berbeda jika di pertegahan tahun sampai bulan september akan cukup ramai kunjungan wisata mungkin karena desember sudah masuk musim penghujan juga. Saya cukup lama menikmati keindahan di gunung kelimutu, sempat juga mebeli minuman jahe hangat dari pedagang   yang berada di sekitar tugu monumen kelimutu yang mana pemisah antara 2 danau dengan 1 danau  yang jaraknya agak jauh berada, jadi dari titik tugu ini kita bisa melihat ke tiga danau walaupun secara bergantian menoleh karena tidak bisa secara bersamaaan kita melihat danau ketiganya. Setelah menikmati keindahan pagi yang tidak mungkin dilupakan hingga nanti akhirnya dengan berat hati meninngalkan danau tiga warna Gunung Kelimutu untuk menuju homestay karena hari sudah mulai beranjak untuk meneruskan waktunya, dan saya mengejar waktu untuk melanjutkan perjalanan menuju Ende.

Kelimutu Lake

Next....Part 2 Klik disini aja...




Jumat, 21 November 2014

(Catper) Gunung Rinjani 3726 to 0 Gili trawangan


Mungkin ini posting yang telat di posting, walaupun sudah lama saya melakukan perjalanan ke gunung rinjani dan lombok, tapi kenanganya masih teringat jelas di hati dan pikiran karena itu perjalanan setelah mencapai impian yang baru di mulai. Saat itu saya berangkat tanggal 25 Desember 2013 dari Cikampek menggunakan bus dengan rombongan kawan-kawan Khyber Pass dan juga teman seperjuangan di kampus si bheler, perjalanan di hari libur natal sangat melelahkan karena macet bukan main di pantura jabar, yang berimbas saya harus menunggu bus rombongan lumayan lama. Setelah perjalanan yang melelahkan  di tanggal 26 rombongan sampai di banyuwangi siang hari, lalu menyebrang ke pulau Bali, sampai di pulau bali sudah sore hari dan langsung melanjutkan perjalanan ke pelabuhan Padang Bai untuk menyebrang ke pulau Lombok yaitu kota awal petualangan menuju puncak dewi anjani.

Sampai di pelabuhan lembar lombok pagi hari tanggal 27, kami langsung menuju ke basecamp pecinta alam nusa tenggara barat untuk istirahat dan makan, setelah packing ulang kami akhirnya pun berangkat menuju pos pendakian Gn.Rinjani melalui jalur pendakian sembalun. Setelah menunaikan shalat jumat saya dan rombongan akan start mendaki, perjalanan pertama kita akan melalui perkebunan warga sekitar dan di lanjutkan memasuki hutan, dengan kondisi hujan gerimis sangat menguras tenaga, setelah keluar hutan jalan mulai menanjak yang membuat kita terkadang sering istirahat, setelah lama berjalan kita sampai di pos III dekat jembatan ke dua dan ngecamp karena hari sudah mulai gelap.

Tanggal 28 pagi hari kita bangun dan tentunya memasak untuk sarapan, lalu sekitar jam 9 pagi melanjutkan perjalanan, medan setelah ini begitu berat dengan panas terik yang cukup menyengat, apalagi ketika melawati 7 bukit penyesalan, seperti melawati rintangan yang begitu sulit, dan setelah bukit penyesalan maka kita akan menemukan banyak vegetasi pohon cemara dan setelah sampai puncak kita sudah bisa melihat danau nan indah danau segara anak, setelah jalan dengan jalan yang sudah sedikit landai kita akan sampai pelawangan sembalun, yang mana kita akan ngecamp karena hari sudah mulai gelap dan untuk melanjutkan perjalanan ke puncak Rinjani malam hari.



Sekitar pukul 11-12 malam kami dan rombongan bersiap melakukan summit menuju puncak Rinjanni, pada waktu itu cukup banyak yang berangkat menuju puncak rinjani, jalur menuju puncak Rinjani mulainya tanah tapi kanan kiri jurang, tak lama jalur mulai bebatuan dan pasir, berjalan dengan dingin yang luar biasa dan angin cukup besar membuat saya lelah dan sering istirahat, setelah menempuh perjalanan yang butuh sedikit perjuangan walau tidak membawa tas carrier kami akhirnya sampai di puncak Rinjani tanggal 29 sekitar jam 5 lewat. Ucapan syukur  yang petama terucap di tanah tertinggi di pulau nusa tenggara barat. di puncak Rinjani kita bisa melihat garis pantai di sekitar, setalah beristirahat kita tidak lupa bernarsis ria sebelum turun ke pelawangan sembalun lagi.

Sesampai pelawangan sembalun saya dan rombongan mulai melanjutkan perjalanan turun tapi menuju ke danau segara anak, perjalanan menuju segara anak cukup melelahkan dengan menahan beban dengan cuaca panas, sampai di danau segara anak sudah sore hari sekitar jam 4, disini kami mulai mendirikan tenda di pinggiran danau, kami akan bermalam dua hari di segara anak, kegitan kami disini mulai dari memancing berendam di air panas, dan treking menuju gua susu di sekitar danau segara anak tapi cuaca di malam hari sangat ekstream dan terbukti setelah turun saya mendengan Rinjani du tutup karena cuaca buruk tapi syukurnya tidak ada hal" yang tidak di inginkan dalam perjalanan kali ini.


Perjalanan turun tanggal 31 desember pagi hari kita sudah siap-siap untuk melanjutkan turun melalui jalur senaru, perjalanan turun pertama kita haru mendaki menuju pelawangan senaru dengan cuaca yang sangat berkabut dan hujan membuat kita sangat lelah. Setelah sampai di pelawangan sembalun kabut sangatlah pekat jarak pandang juga berkurang membuat kita harus berhati-hati setelah melewati pelawangan sembalun jalur mulai menurun dan sedikit cerah, perjalanan pun kami buat dengan secepat mungkin dengan tenaga yang tersisa agar tidak terlalu malam sampai di bawah di pos senaru. sampai di pintu rimba pos senaru sekitar setengah tiga. lalu kami lanjutkan ke rumah warga tempat kami istirahat di pos senaru, rencananya kami akan menuju gili trawangan, tapi karena cuaca yang tak memungkinkan dan masih ada yang tertinggal walau hari sudah gelap jadi tidak jadi.

Pagi hari tanggal 1 Januari kami dan rombongan melanjutkan perjalanan menuju pulau gili trawangan,  sekitar jam 10:30 kita menyebrang menggunakan perahu menuju gili trawangan disana kita melakukan aktivitas keliling pulau makan dan pembagian doorprize, dan jam 4 kita melanjutkan perjalanan pulang menuju jakarta kembali.





 Sampai rumah tanggal 3 januari saya dan irvan turun di Cikampek, lalu teman" melanjutkan perjalanan ke Jakarta. Sekian cerita singkat menuju Gunung Rinjani nan indah, ucapan terimakasih kepada : Allah SWT dan kedua orang tua yang selalu mendukung saya, kepada teman irvan bheler anggota no name teman ngampus yang sudah bersama mengejar mimpi, dan tak lupa team Khyber Pass Bang Jhon Bang Ombe Bang Andro Bang Budi Mbak Chintya Bang Amung Dan bang yang lain yang tak bisa saya sebutkan semua, dan team yang di lombok yang menemani kita selama di perjalanan bang pian bang sule dan yang lainya.

Perjealan ini Teruntuk Kedua Orang Tuaku atas Gelar Sarjanaku S.Kom 
  

Aku Akan Kembali

Sabtu, 12 Juli 2014

MT.Lawu Perjalanan Lintas Provinsi ( Catper ) Cemoro Sewu- Candi Cetho

Tugu Puncak Hargo Dumilah
  
  Kali saya menceritakan perjalanan menuju gunung lawu, sebelumnya sedikit penjelasan tentang gunung lawuh dari pak Wiki " Gunung Lawu (3.265 m) terletak di Pulau Jawa, Indonesia, tepatnya di perbatasan Provinsi Jawa Tengah dan Jawa Timur. Status gunung ini adalah gunung api "istirahat" dan telah lama tidak aktif, terlihat dari rapatnya vegetasi serta puncaknya yang tererosi. Di lerengnya terdapat kepundan kecil yang masih mengeluarkan uap air (fumarol) dan belerang (solfatara). Gunung Lawu mempunyai kawasan hutan Dipterokarp Bukit, hutan Dipterokarp Atas, hutan Montane, dan hutan Ericaceous. Gunung Lawu adalah sumber inspirasi dari nama kereta api Argo Lawu, kereta api eksekutif yang melayani Solo Balapan-Gambir. Gunung Lawu memiliki tiga puncak, Puncak Hargo Dalem, Hargo Dumiling dan Hargo Dumilah. Yang terakhir ini adalah puncak tertinggi. "
    
     Saya bersama rombongan bertiga dengan kawan No Name Adv dari karawang plus satu temen di tempat kerja dari depok, jadi personil kami 4 orang.  Untuk keberangkatan kali ini kami memutuskan untuk menuju Yogyakarta bukanya solo kota terdekat menuju basecamp pendakian Lawu, karena kami berniat untuk menghabiskan waktu dua hari di yogya, karena bertepatan dengan hari libur Waisak untuk melihat acara 1000 Lampion di kawasan borobudur. Perjalanan ke Yogya menggunakan kereta Progo dari stasiun Pasar senen jam 22.00 malam tanggal 13 Mei, dengan tiket seharga Rp.50.000 kami pun sampai di Stasiun Lempuyangan Yogyakarta sekitar jam 06.30 pagi tanggal 14 Mei.

      Sampai di Yogyakarta kami langsung mencari hotel sekitar Malioboro, tentunya hotel yang cocok untuk para backpacker"an :). Setelah mendapatkan hotel pagi itu kami istirahat untuk persiapan malam menuju candi Borobudur bersama teman dari jakarta yang sudah janjian untuk gabung berangkat bersama menuju TKP, karena dengan kita berasama biaya akan terasa ringan itu salah  satu jurus andalan untuk yang doyan jalan-jalan menikmati indahnya negeri ini...cie...cie..., rencana keberangkatan ke Gunung Lawu sendiri kami akan berangkat tanggal 16 mei.

16 Mei 2014
Sesuai rencana kami dengan teman-teman berangkat menuju Solo menggunakan Prambanan Ekpres sekitar jam 09.00 pagi, tapi karena faktor begadang dan lelah kami baru jam 9 pagi bangun. Setelah bangun kami langsung packing dan membeli logistik yang kurang dan tidak lupa sarapan kesiangan sebelum berangkat ke Stasiun Tugu yang tidak jauh dari hotel tempat menginap.

Sekitar jam 12:30 lewat kita sampai di Stasiun tugu dan menanyakan dan membeli tiket kereta menuju Solo  tak lama kami menunggu datang kereta Sriwedari menuju solo dengan tiket seharga Rp.6000 non ac. Perjalanan menggunakan kereta dari solo sekitar kurang lebih satu jam setengah. kami memutuskan turun di Stasiun Solo Balapan kemudian jalan menuju terminal yang jaraknya tidak terlalu jauh untuk melanjutkan perjalanan menggunakan bus ke Tawangmangu.

Sore hari kita tiba di Tawangmangu, untung saja ada rombongan dari semarang yang turun bareng juga dari bus, dan kami bersama menuju pos pendakian Cemoro Sewu (Jatim) menggunakan mobil L300 lama kalau nanjak suka batuk-batuk mungkin karena mobil tua, perjalanan menuju Cemoro Sewu akan melewati pos pendakian Cemoro Kandang (Jateng) juga.

Sampai di cemoro sewu kami siap-siap kembali check perlengkapan dan alhsail masih ada satu yang kuras gas untuk kompor, kamipun sibuk mencari di warung-warung di Cemoro Sewu ( Jawa Timur) dan hasilnya kosong semua terpaksa saya dan Odhie berjalan menuju Jawa Tengah ( Cemoro Kandang ) dan untungnya di Cemoro Kandang tersedia. Kami dan tim memutuskan melakuakn perjalanan malam, sebelum berangkat kami tidak lupa mengurus perizinan pendakian di pos pendaftaran Cemoro Sewu.

Sekitar 18.30 kami mulai pendakian, dengan di iringi doa dan gelap kami mulai berjalan di kegelapan dengan penerangan cahaya bulan yang mulai terang karena saat itu sedang bulan purnama, jadi jalan tidak menggunakan senter juga sudah terang. Perjalanan dari basecamp  ke pos 1 akan melawati dua pos bayangan. Berjalan mendaki malam bagi saya kurang nyaman selain tidak bisa menikmati suasana hijau juga kurang bisa memperhatikan medan yang saya lalui, walaupun dapat nilai tambah tidak akan kepanasan oleh teriknya matahari yang bisa membuat kita cepat lelah. Jalur ke pos 1 didominasi bebatuan yang disusun rapih menjadi jalan setapak.

Dalam perjalanan ini kita memang santai tidak punya target apa-apa atau sampai pos mana jadi saya dan teman lainya sering istirahat dan sempat menyantap makanan yang dibawa dari pos pendakian Sewu, dari pos 1 ke pos 2 jaraknya sangat jauh dan membuat kami frustasi. Di tengah dinginya malam dengan cahaya bulan yang terang akhirnya kami sampi di Pos 2 sekitar jam 22:30, kami sepakat ngecamp di bawah pos 2 yang masih terdapat lapak buat istirahat malam itu untuk melanjutkan perjalanan esok hari.

17 Mei 2014
Masak Sarapan yang kesiangan

Sekitar jam setengah tujuh saya dan teman-teman bangun untuk siap-siap membuat sarapan pagi yang sepesial karena menu makan kali ini bergizi sekali dengan logistik sayuran yang kita beli di Yogyakarta. Kita di pos 2 agak santai karena akan melanjutkan perjalanan siang hari.

Siap Berangkat Action

Sekitar jam 13.00 siank kami siap melanjutkan menuju pos selanjutnya, target kita ke pos 5 karena akan summit esok hari menuju puncak Hargo Dumilah, dengan terik matahari yang lumayan terik kami sering sekali istirahat terkadang bisa 20 menit jiak menemui tempat yang asik untuk istrahat dengan view yang indah. Untuk jalur sendiri lumayan menguras tenaga kita melawati bebatuan yang terjal dan kita terkadang akan menghirup bau belerang yang menyengat karena melewati kawah.

Di Atas Awan

Setelah sampai pos tiga jalur masih sama seperti jalur dari pos 2 ke pos 3 dengan bebatuan yang terjal yang disusun seperti tangga dan ada pembatas besi dengan jalur zigzag yang sangat lumayan menguras tenaga, atara pos 3 ke pos 4 juga lumayan sering kami istirahat santai. Ketika sampai di pos 4 hujan rintik-rintik ketika itu saya sendiri karena odhie dan hamdan sudah duluan, karena saya menunggu bayhaqy yang masih di belakang tak lama istirahat saya melanjutkan perjalan menuju sindang drajat atau pos lima.

Nyantai sambil narsis


Perjalana pos 4 ke Sindang Draja sedikit menanjak dan disini baru akan mendapatkan bonus trek landai yang lumayan jauh jaraknya, sampai di sindang drajat sekitar pukul 17.30, di Sindang drajat sendiri terdapat warung dan juga tempat tidur untuk para pendaki,setelah beristirahat cukup lama dan berdiskusi panjang pendek, gak pakai lebar kami memutuskan untuk ngecamp di sindang derajat karena malam sudah gelap dan bayhaqy mengalami sedikit masalah dikakinya.

18 Mei 2014 
Packing-packing

Sekitar pukul 7 pagi kami bangun siap-siap packing dan masak untuk sarapan, dan melanjutkan perjalanan menuju puncak dan kemudian turun. sekitar jam 9.30 kami sudah siap menuju puncak lawu hargo dumilah. Sekitar perjalanan 1 jam plus istirahat akhirnya kita sampai di Puncak Hargo Dumilah, tidak lupa puji syukur sampai ke puncak Lawa dan tidak lupa bernarsis ria.
Tim Pendaki

Hargo Dumilah Top

Setelah puas beernarsis ria dan menikmati keindahan yang kuasa akhirnya kami turun sekitar jam 11.30, lalu kami menuju hargo dalem ke warung mbok yem, di warung mbok yem saya dan teman-teman beristirahat cukup lama sempat memesan kopi juga. Disini kami masih belum tau jalur untuk turun, rencananya kami memang turun melalui jarur cemoro kandang. Setelah beristirahat di warung mbok yem kita ketemu pendaki asal yogya yang mengajak turun melalui jalur candi cetho, akhirnya kami sepakat turun bersama melalui candhi cetho sekitar jam 12 lewat.
Sekitar Puncak

Mbok Yem....Ngops ach...

Jalur turun melalui candi cetho dari hargo dalem ke arah kanan, pertama tracknya cukup landai, kita akan melewati pasar setan, yang kurang jelas jalurnya, karena banyak jalan setapak. Saya dan teman-teman pertama hanya mengikuti teman pendaki dari yogya yang naik melalui candi cetho. Setelah melalui pasar setan track sedikit mulai jelas, dengan jalan setapak yang samping kanan kiri didominasi savana yang cukup luas. Setelah sampai POS 5 (perbatasan Jatim-Jateng)  ke pos selanjutnya sudah  didominasi oleh pepohonan cemara dan jalan tracknya sedikit menurun dan terjal.
View Turun Jalur Cetho

Jalan Tak tau arah

Setelah sampai pos 4 kita berpisah dengan rombongan dari pendaki, karena takut kemalaman dijalan, track dari pos 4 selanjutnya sudah tanah basah dengan track yang sempit, dimana kadang-kadang kami sering terjatuh karena medan yang licin dan tidak terlalu lebar. Sekitar jam lima sore kami sudah sampai di pos dua dengan jalan yang sangat santai, karena tim kami ada yang kakinya sakit. Dari pos 2 kami jiga sudah kehabisan bekal air, menambah lelah dalam perjalanan dan hari sudah gelap dan jalur track yang cukup parah banyak pohon tumbang dan tanah yang licin membuat kami lelah sekali. Penuh perjuangan sekali untuk turun dan melanjutkan perjalanan, di tengah gelap malam kami pun berjuang untuk bisa kembali ke puncak yang indah bernama Keluarga tercinta :).

Ada sesuatu sepertinya
Awan sembunyi
Istirahat Pos 3 Jalur candi Cetho

Setelah berjalan cukup lama dari pos 2 ke pos 1, kami akhirnya sampai dipersimpangan jalur hutan dengan perkebunan, dan kami sempat menemui jalur yang membuat kami tidak tahu mau kemana, setelah melihat jalur yang ada, saya menemukan sumber air yang bisa dimunum, itulah yang membuat kami semangat kembali untuk lekas kembali. Tapi akhirnya kami salah mengambil jalan yang harusnya lurus kami malah melalui jalanan yang sudah di cor entah di aspal, lumayan cukup jauh sampai ke pemukiman warga dan ketika sampai kami terkejut, jalur yang kami lalui malah menjauh dari pos candi cetho, setalah kami berdiskusi dengan warga kami akhirnya minta diantar keterminal terdekat untuk hanya istrahat karena kami tahu tidak ada bus menuju solo. Akhirnya kami naik ojeng menuju terminal/pasar kecamatan Kemuning Karanganyar untuk melanjutkan perjalanan esok hari menuju Solo.

19 Mei 2014
 Pagi buta sekali kami bangun untuk menunggu bus pertama ke sebuah terminal lagi untuk menuju Solo, karena kami akan ke yogya lebih dahulu, karena tiket pulang tanggal 20 mei. Sesampai di Solo masi pagi hari saya sempatkan untuk mandi, dan sekitar jam 08.12 kami berangkat menggunakan kereta Madiun Jaya seharga 20000 menuju yogya, di kereta kami tidak dapat tempat duduk karena sudah penuh, menurut saya kereta ini cukup bagus sesuai dengan harga memang, dengan tempat duduk yang nyaman dan AC yang dingin. Setelah sampai Solo kami ke teman odhie yang kuliah di yogya untuk menginap semalam untuk esok kembali ke rumah tercinta.

20 Mei 2014
Sekitar pukul 10 kami sudah berangkat menuju stasiun lempuyangan, untuk kembali ke rumah menggunakan kereta Eko AC Krakatau yang berangkat sekitar jam 11.26, kereta ini bukan sembarang ekonomi karena dengan tempat duku 2x2 dan AC cukup dingin membawa kami pulang, sekiatar jam 20.25 kami sudah sampai di Cikampek. 

Sekian perjalanan saya menuju Gunung Lawu, terimakasih kepada Allah SWT, kedua orang tuaku teman No Name Team Adv, untuk temen seperjuangan dan seperjalanan Odhie,Hamdan, Baihaqy, untuk Teman Odhie Reza terimaksi tumpangan dan bantuanya, dan semua orang yang gak bisa di sebutin. Tak Ada Perjalanan Yang Indah Kecuali Hasil dari Perjalanan Itu.